Adidas mencatatkan rekor penjualan pada kuartal kedua (Q2) 2026 berkat euforia Piala Dunia FIFA 2026.
Kampanye pemasaran bertajuk “Backyard Legends” yang dibintangi aktor Hollywood Timothée Chalamet sukses mendongkrak penjualan jersey, bola, hingga produk sepak bola Adidas ke level tertinggi.
Namun di balik pencapaian tersebut, lonjakan biaya pemasaran yang menembus US$1,05 miliar atau sekitar Rp17 triliun justru membuat investor bereaksi negatif. Saham Adidas bahkan anjlok hingga 17 persen setelah laporan keuangan dirilis.
Penjualan Adidas Cetak Rekor Berkat Piala Dunia 2026
Dalam laporan keuangan kuartal kedua 2026, Adidas membukukan penjualan bersih sebesar US$7,7 miliar (sekitar Rp125 triliun) atau tumbuh 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut menjadi rekor penjualan tertinggi perusahaan untuk periode kuartal kedua.
Keberhasilan ini tidak lepas dari status Adidas sebagai sponsor resmi FIFA World Cup 2026. Perusahaan asal Jerman tersebut juga menjadi pemasok jersey bagi 14 tim nasional yang tampil di turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Adidas mengungkapkan penjualan jersey selama Piala Dunia meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan Piala Dunia Qatar 2022. Sementara penjualan bola resmi pertandingan naik dua kali lipat. Secara keseluruhan, penjualan yang berkaitan dengan Piala Dunia menghasilkan pendapatan sekitar US$1,7 miliar.
Kampanye Timothée Chalamet Jadi Kunci Sukses
CEO Adidas, Bjørn Gulden, menyebut kampanye pemasaran “Backyard Legends” berhasil menghidupkan kembali kecintaan masyarakat terhadap sepak bola.
Menurut Gulden, koleksi jersey, apparel bertema budaya sepak bola, sepatu, hingga bola resmi pertandingan mendapat respons luar biasa dari konsumen di berbagai negara.
Ia juga menilai final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina dan Spanyol menjadi momen sempurna bagi Adidas karena kedua finalis sama-sama mengenakan jersey produksi mereka. Selain itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, para wasit juga mengenakan perlengkapan dengan logo Three Stripes milik Adidas.
Biaya Marketing Tembus US$1 Miliar
Di balik lonjakan penjualan tersebut, Adidas harus mengeluarkan biaya pemasaran yang sangat besar.
Selama kuartal kedua 2026 saja, perusahaan menambah anggaran pemasaran sebesar US$243 juta, atau naik sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Total pengeluaran marketing Adidas pada Q2 akhirnya mencapai US$1,05 miliar (sekitar Rp17 triliun), sebagian besar dialokasikan untuk kampanye Piala Dunia, aktivasi sponsor, promosi digital, hingga berbagai kegiatan pemasaran global.
Meski penjualan meningkat tajam, laba operasional Adidas hanya mencapai US$658 juta, lebih rendah dari ekspektasi analis pasar.
Saham Adidas Anjlok 17 Persen
Kondisi tersebut membuat investor khawatir terhadap besarnya biaya operasional yang harus ditanggung perusahaan.
Tak lama setelah laporan keuangan diumumkan, saham Adidas langsung merosot 17 persen, menjadi penurunan harian terbesar dalam sejarah perusahaan.
Walaupun Adidas menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan sepanjang 2026 menjadi 9 hingga 10 persen, perusahaan tetap mempertahankan target laba operasional sekitar US$2,6 miliar, sehingga memicu kekecewaan pelaku pasar.
Apparel Jadi Mesin Pertumbuhan Adidas
Selain didorong Piala Dunia, lini produk pakaian menjadi kontributor utama pertumbuhan Adidas pada kuartal kedua.
Penjualan kategori apparel meningkat 35 persen, sedangkan penjualan footwear naik 1 persen dan kategori lifestyle bertambah 2 persen.
Pertumbuhan penjualan juga terjadi hampir di seluruh wilayah operasional Adidas, kecuali pasar Eropa yang relatif stagnan.
Piala Dunia 2026 Dongkrak Industri Global
Fenomena Piala Dunia 2026 tidak hanya memberikan dampak positif bagi Adidas. Sejumlah perusahaan global lain seperti McDonald’s dan Unilever juga melaporkan peningkatan penjualan serta efektivitas kampanye pemasaran selama turnamen berlangsung.
Bagi Adidas, ajang sepak bola terbesar dunia itu menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi sebagai salah satu merek olahraga terbesar di dunia. Namun, tantangan berikutnya adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penjualan dan efisiensi biaya agar kepercayaan investor tetap terjaga.

Leave a Reply