Di panggung kebijakan publik Indonesia, nama Ulta Levenia Nababan menjelma menjadi salah satu figur muda yang paling menyita perhatian netizen. Gelombang viral di media sosial baru-baru ini dipicu oleh klaimnya mengenai 72,8 persen kepuasan publik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) di podcast Denny Sumargo bukanlah momen pertamanya berdiri di tengah badai opini publik.
Di balik retorika politiknya yang gigih membela program strategis pemerintah, siapakah sebenarnya sosok Ulta Levenia?
Jauh sebelum mengenakan kemeja putih khas lingkaran Istana Kepresidenan, perempuan yang akrab disapa Ulta ini meniti karier sebagai seorang akademisi dan analis strategis. Ia merupakan lulusan jurusan Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia (UI).
Ketertarikannya yang mendalam pada dinamika global membawanya melanjutkan studi master ke luar negeri.
Ulta tercatat menyelesaikan pendidikan pascasarjana di University of Leeds, Inggris, dengan mengambil spesialisasi yang cukup langka bagi akademisi perempuan di Indonesia: Terrorism, Security, and Policing (Terorisme, Keamanan, dan Perpolisian).
Latar belakang pendidikan ini membentuk kapasitasnya sebagai peneliti isu-isu konflik zona abu-abu (grey-zone conflicts), geopolitik, serta kekerasan politik.
Spesialisasi ini pula yang mendorongnya mendirikan sekaligus memimpin organisasi bernama Milenial untuk Pertahanan dan Keamanan (Mapan). Melalui wadah tersebut, ia aktif mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap ketahanan nasional dan studi strategis.
Lompatan ke Lingkaran Inti Kekuasaan
Kombinasi antara keahlian analisis pertahanan dan keberpihakan politik yang jelas pada masa transisi pemerintahan membawanya masuk ke dalam lingkaran birokrasi elit. Ulta dipercaya menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP), sebuah posisi strategis yang bertugas mengawal dan mendiseminasikan program-program prioritas kepala negara kepada publik.
Melalui perannya di KSP, ruang lingkup isu yang dipegangnya meluas. Tidak hanya berbicara soal mitigasi dampak ketidakpastian geopolitik global—seperti ketegangan di Timur Tengah—ia juga kerap maju ke garda depan untuk menjelaskan kebijakan diplomasi Indonesia, termasuk saat mengurai rencana perdamaian kemanusiaan di Gaza melalui Board of Peace (BoP).
Namun, posisinya saat ini juga menuntutnya menjadi komunikator politik untuk kebijakan domestik yang paling sensitif. Salah satunya adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG), program unggulan Presiden Prabowo Subianto yang kini tengah diuji di ranah hukum maupun realisasi lapangan.
Antara Narasi Kuantitatif dan Kritik Ruang Publik
Kemunculan Ulta di ruang digital kerap memicu polarisasi. Sebagai pejabat muda yang melek media sosial—aktif mengelola akun Instagram pribadinya @leveenia, ia menempatkan diri sebagai pembela kebijakan yang berbasis pada data kuantitatif dan testimoni lapangan.
Polemik terakhirnya di ruang publik digital memperlihatkan benturan dua perspektif. Di satu sisi, Ulta memegang teguh angka statistik kepuasan publik 72,8 persen sebagai legitimasi bahwa program pemerintah berjalan di jalur yang benar.
Di sisi lain, para kritikus dan kalangan akademisi melihat argumennya sering kali menyederhanakan kompleksitas masalah yang ada di lapangan, seperti masalah skala prioritas ekonomi masyarakat dan tata kelola anggaran.
Kritik publik juga sempat menerpa dirinya ketika mengulas isu strategis internasional di luar pakem keahlian akademis utamanya. Kendati demikian, sorotan tersebut justru mempertegas posisi Ulta di mata publik: ia adalah prototipe pejabat publik era baru yang tidak ragu terjun langsung ke palagan opini media sosial demi mempertahankan narasi Istana.
Bagi sebagian pihak, Ulta Levenia dinilai sebagai representasi anak muda yang vokal, berani, dan kompeten di bidangnya. Namun bagi sebagian lainnya, ia menjadi pengingat tentang besarnya tantangan komunikasi publik yang dihadapi pemerintah, di mana angka-angka di atas kertas akan selalu diuji oleh realitas dan tuntutan transparansi di dunia nyata.

Leave a Reply